PULNEW.COM - DELI SERDANG - Aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, lumpuh sementara pada Selasa 1 September 2026. Penyebabnya adalah erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo yang material abunya terbawa angin hingga ke jalur penerbangan wilayah Sumatera Utara.
Keputusan penghentian sementara ini diambil oleh pengelola bandara setelah menerima pemberitahuan resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG. Dampaknya langsung terasa. Sejumlah jadwal keberangkatan dan kedatangan terpaksa dibatalkan dan ditunda hingga kondisi dinyatakan aman.
Manajemen PT Angkasa Pura Aviasi selaku operator Bandara Kualanamu memastikan langkah ini demi keselamatan seluruh penumpang dan kru pesawat. Pasalnya abu vulkanik terbukti sangat berbahaya bagi mesin dan sistem navigasi pesawat terbang.
NOTAM Resmi Dikeluarkan, Penerbangan Ditutup Mulai Pukul 10.50 WIB
Penghentian operasional bandara tidak dilakukan mendadak. Pihak bandara terlebih dahulu menerima Notice to Air Missions atau NOTAM dari BMKG.Untuk diketahui, NOTAM adalah pemberitahuan resmi yang memuat informasi penting terkait perubahan fasilitas penerbangan, prosedur, hingga potensi bahaya di udara. Dalam kasus ini, NOTAM diterbitkan karena adanya sebaran abu vulkanik dari Gunung Sinabung.
Manager of Corporate Affairs PT Angkasa Pura Aviasi, Mohamad Hikmat Hidayat, mengonfirmasi adanya penutupan sementara tersebut. Menurutnya, penutupan berlaku mulai pukul 10.50 WIB hingga 12.45 WIB.
"Hari ini mulai dari pukul 10.50 sampai 12.45 WIB nggak ada kegiatan karena efek dari meletusnya gunung sinabung. Itu masih perkiraan sementara sudah keluar NOTAMnya, info BMKG," ujar Mohamad Hikmat Hidayat saat dikonfirmasi, Selasa 1 September 2026.
Dampak dari penutupan ini sudah langsung terasa sejak pagi. Beberapa maskapai melaporkan adanya keterlambatan keberangkatan. Bahkan ada rute internasional yang harus dibatalkan total.
Salah satunya adalah penerbangan Singapore Airlines. Mohamad Hikmat menyebut maskapai asal Singapura itu sudah membatalkan jadwalnya sejak malam sebelumnya karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan.
"Tadi malam pun sudah nggak bisa dan sudah ada yang cancel juga penerbangan khususnya dari Singapore Airlines," bilang Mohammad Hikmat.
Selain pembatalan, sejumlah penerbangan domestik tujuan Jakarta, Batam, dan Padang juga mengalami penundaan. Garuda Indonesia, Citilink, dan Lion Air juga terdampak. Petugas di terminal keberangkatan Kualanamu terlihat sibuk melakukan pengalihan dan memberikan informasi kepada calon penumpang.
Keputusan menutup bandara diambil karena faktor teknis. Abu erupsi memiliki kandungan silika yang jika terhisap ke dalam mesin jet bisa menyebabkan kerusakan fatal pada turbin. Selain itu jarak pandang pilot juga bisa terganggu akibat kabut abu.
Dampak Abu Vulkanik dan Skenario Terburuk Satu Hari Tanpa Penerbangan
Gunung Sinabung memang sudah berstatus aktif sejak 2010. Namun erupsi dengan skala yang mengganggu penerbangan komersial terakhir kali terjadi pada 2021 lalu. Kali ini, arah angin dari puncak Sinabung membawa abu ke arah timur laut, tepat di jalur approach Bandara Kualanamu.Secara geografis, jarak Bandara Kualanamu ke puncak Sinabung sekitar 70 km. Dengan kecepatan angin 20-30 knot, abu vulkanik bisa mencapai wilayah bandara dalam waktu kurang dari 2 jam setelah erupsi.
BMKG Stasiun Klimatologi Deli Serdang mencatat konsentrasi abu di udara pada ketinggian jelajah pesawat mencapai level yang berbahaya. Karena itu rekomendasi NOTAM langsung dikeluarkan.
Pihak Angkasa Pura Aviasi mengaku belum bisa memastikan kapan operasional akan normal kembali. Semua bergantung pada perkembangan aktivitas Sinabung dan arah angin.
Mohamad Hikmat memaparkan skenario terburuk yang mungkin terjadi jika erupsi terus berlangsung.
"Dampak terburuk ya bisa full day atau satu harian tanpa penerbangan apabila kondisi masih terus terjadi. Artinya bandara yang close bukan flight lagi," tegasnya.
Jika skenario full day terjadi, maka dampaknya akan sangat besar. Kualanamu merupakan pintu gerbang utama Sumatera Utara. Setiap hari ada lebih dari 150 pergerakan pesawat dan 20 ribu penumpang. Pembatalan massal akan merugikan maskapai, bandara, dan juga wisatawan. Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai miliaran rupiah per hari.
Untuk mengantisipasi, pihak bandara telah berkoordinasi dengan maskapai, AirNav Indonesia, dan otoritas bandara. Posko informasi juga dibuka di terminal 1 dan 2 untuk melayani penumpang yang terdampak.
Para penumpang diimbau untuk terus memantau informasi dari maskapai masing-masing. Pihak bandara juga meminta masyarakat di sekitar Karo dan Deli Serdang untuk menggunakan masker guna menghindari dampak abu vulkanik.
Hingga berita ini ditulis, tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG masih melakukan pemantauan intensif terhadap aktivitas Gunung Sinabung. Data seismik dan visual terus dikirim ke BMKG untuk bahan evaluasi pembukaan kembali NOTAM.
Menurut pantauan PULNEW.COM, kasus penutupan Kualanamu akibat Sinabung ini adalah bukti nyata bagaimana bencana geologi di satu titik bisa melumpuhkan konektivitas satu provinsi.
Pertama, keputusan cepat Angkasa Pura Aviasi menutup bandara memang merugikan secara ekonomi, namun ini adalah standar keselamatan penerbangan global yang tidak bisa ditawar. Keselamatan 20 ribu penumpang per hari adalah prioritas utama.
Kedua, sinergi data real-time antara PVMBG, BMKG, dan AirNav harus terus diperkuat. Dengan data yang lebih presisi, NOTAM bisa dikeluarkan lebih awal dan areanya lebih spesifik, sehingga tidak semua penerbangan harus dibatalkan.
Ketiga, maskapai dan bandara perlu punya skenario mitigasi. Contohnya menyediakan bus gratis ke Bandara Silangit atau Polonia untuk penerbangan darurat, serta asuransi keterlambatan bagi penumpang. Dengan begitu dampak ke masyarakat bisa diminimalisir tanpa mengorbankan keselamatan.