Gunung Anak Krakatau Erupsi Menerus Sejak Jumat Malam, Gubernur Banten Andra Soni Minta Warga Tetap Tenang

2026-09-05T18:24:00+07:00 | NASIONAL

Gunung Anak Krakatau Erupsi Menerus Sejak Jumat Malam, Gubernur Banten Andra Soni Minta Warga Tetap Tenang

PULNEW.COM - SERANG - Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau atau GAK di Selat Sunda kembali meningkat. Gunung api setinggi 157 meter di atas permukaan laut itu tercatat erupsi menerus sejak Jumat 4 September 2026 malam pukul 23.07 WIB hingga Sabtu pagi, disertai fenomena lava air mancur dan dentuman yang terdengar hingga pesisir Banten dan Lampung.

Menyikapi kondisi tersebut, Gubernur Banten Andra Soni mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik. Ia memastikan pemerintah terus memantau perkembangan status gunung yang saat ini masih berada di Level III atau Siaga.

"Kami terus memantau pergerakan status dari Anak Krakatau yang terus erupsi," kata Andra Soni kepada wartawan di Kota Serang, Sabtu 5 September 2026.

Menurut Andra, kunci utama saat ini adalah mengikuti arahan resmi dari pemerintah. "Saya meminta kepada masyarakat untuk mendengar atau untuk menyimak instruksi dari pemerintah. Tetap tenang karena kami setiap hari melakukan pengawasan dan sampai dengan hari ini masih dalam pantauan kami dalam status Siaga," ujarnya.

Erupsi Tipe Lava Fountain, 240 Kali Meletus Sejak Juli

Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG, erupsi yang terjadi sejak 4 September 2026 termasuk dalam tipe Strombolian. Ciri utamanya adalah kemunculan semburan lava pijar menyerupai air mancur atau lava fountain dari kawah aktif.

Pengamat Gunung Api Anak Krakatau, Muhammad Dika Nurzaman, mencatat erupsi menerus itu berlangsung selama 1 jam 30 menit sejak pukul 23.07 WIB. Data kegempaan merekam satu kali gempa letusan dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan durasi 21.600 detik.

"Proses pengamatan visual di lokasi kawah saat ini mengalami hambatan. Pemantauan terakhir pada pukul 01.00 WIB sempat merekam fenomena semburan lava sebelum beberapa peralatan sensorik, termasuk kamera CCTV di dekat kawah, diperkirakan mengalami kerusakan akibat paparan material letusan," jelas Dika.

PVMBG juga melaporkan asap kawah berwarna kelabu hingga hitam dengan ketinggian 100-400 meter di atas puncak. Sementara itu, suara gemuruh dan dentuman keras dilaporkan terdengar sampai ke wilayah pesisir Banten dan Lampung. Badan Geologi menegaskan suara tersebut merupakan rambatan gelombang suara erupsi di udara, bukan akibat gempa tektonik.

Status Level III Siaga untuk GAK sebenarnya sudah ditetapkan sejak 2 Juli 2026. Sepanjang periode itu, gunung ini tercatat telah meletus lebih dari 240 kali. Pada periode pengamatan Sabtu 5 September 2026 pukul 00.00-06.00 WIB, PVMBG mencatat 6 kali letusan, 8 kali hembusan, serta puluhan gempa frekuensi rendah dan hibrida.

Meski intensitasnya meningkat, PVMBG tetap mempertahankan status Siaga. Rekomendasi yang dikeluarkan adalah larangan beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Larangan itu berlaku untuk masyarakat, wisatawan, nelayan, dan pendaki.

BNPB juga turut mengeluarkan imbauan. Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan meminta warga tidak mendekati kawasan GAK hanya untuk mengabadikan aktivitas erupsi demi konten.

BPBD: Potensi Tsunami Kecil, Jalur Evakuasi Pesisir Siap

Isu potensi tsunami sempat membuat warga pesisir Banten dan Lampung khawatir. Kekhawatiran itu tidak lepas dari trauma bencana 22 Desember 2018 lalu yang dipicu longsoran tubuh GAK hingga menewaskan 400 orang lebih.

Namun Kepala Pelaksana BPBD Banten Lutfi Mujahidin memastikan kondisi saat ini berbeda. "Struktur badan dari Gunung Anak Krakatau sekarang ini beda dengan yang tahun 2018. Jadi, masih aman dari bencana tsunami kalau yang ditimbulkan oleh Krakatau," kata Lutfi.

Ia menjelaskan, berdasarkan evaluasi PVMBG, pertumbuhan tubuh GAK pasca 2018 masih relatif kecil. Kondisi tersebut dinilai tidak berpotensi mengalami keruntuhan secara masif yang dapat memicu tsunami.

"Dari hasil evaluasi tubuh Gunung Anak Krakatau masih kecil sehingga saat ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami karena adanya longsoran seperti tahun 2018 lalu," tambah Lutfi.

Terkait laporan warga mengungsi, Lutfi menyebut hal itu murni inisiatif pribadi sebagai langkah antisipasi. "Tadi anggota sudah ada yang survei, deteksi ke sana terkait adanya yang mengungsi. Ternyata bukan mengungsi, dia memang punya rumah di atas gunung, jadi dia pindah-pindah saja begitu," ujarnya.

Untuk antisipasi, pemerintah daerah telah menyiapkan infrastruktur mitigasi. "Jalur dan rambu penunjuk jalur evakuasi sudah lama ada, dari mulai Sumur hingga Merak," tegas Lutfi.

Selain itu, BPBD juga mengingatkan warga agar tidak termakan informasi hoaks. Ia mencontohkan isu sirene tsunami berbunyi dan beredarnya video GAK meledak-ledak. "Ikuti informasi dari media sosial resmi, seperti BNPB, BPBD, PVMBG," tandas dia.

Gubernur Andra Soni sependapat. Ia berharap status GAK tidak naik ke level yang lebih tinggi. "Kami berharap mudah-mudahan tidak meningkat statusnya dan ini kan terjadi sudah beberapa bulan. Kami terus amati," ujar Andra.

Saat ini pemantauan terus dilakukan 24 jam oleh Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang. Data terbaru juga dapat diakses masyarakat melalui portal resmi MAGMA Indonesia di http://magma.esdm.go.id dan aplikasi MAGMA untuk notifikasi real time.

Menurut pantauan PULNEW.COM, erupsi GAK kali ini menjadi pengingat penting bahwa mitigasi bencana tidak bisa hanya mengandalkan rasa tenang.

Pertama, dengan status Siaga yang sudah berjalan sejak Juli dan frekuensi erupsi lebih dari 240 kali, pemerintah daerah bersama PVMBG dan BNPB harus memperketat patroli laut di zona 3 KM. Jangan sampai ada nelayan atau wisatawan nekat mendekat.

Kedua, edukasi kepada masyarakat pesisir adalah kunci. Warga harus paham perbedaan suara erupsi dan gempa, serta paham cara baca peringatan dari aplikasi MAGMA agar tidak panik.

Ketiga, kesiapan jalur evakuasi dan penangkalan hoaks harus terus disosialisasikan, mengingat trauma 2018 masih membekas di benak warga Banten dan Lampung.

Kewaspadaan tinggi, namun tanpa kepanikan, adalah kunci menghadapi dinamika GAK ke depan.