Hari Ke-3 Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau, TNI AL Turunkan 3 Kapal Perang

2026-09-09T17:31:00+07:00 | NASIONAL

Hari Ke-3 Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau, TNI AL Turunkan 3 Kapal Perang

PULNEW.COM - PANDEGLANG - Operasi pencarian terhadap 5 jurnalis yang hilang kontak di perairan Gunung Anak Krakatau memasuki hari ke-3. Upaya penyelamatan terus dikebut di tengah cuaca ekstrem dan ancaman abu vulkanik di Selat Sunda.

TNI Angkatan Laut resmi mengerahkan tiga kapal perang untuk memperluas area penyisiran. Tiga unsur KRI yang diturunkan adalah KRI Leuser-924, KRI Kerambit-627, dan KRI Lepu-861.

Pengerahan kapal perang ini dilakukan untuk memperkuat jangkauan pencarian sekaligus mendukung tim SAR gabungan yang sudah lebih dulu berada di lokasi sejak Senin 7 September 2026 kemarin.

"Tiga KRI dikerahkan untuk memperkuat operasi pencarian dan memperluas area penyisiran di sekitar perairan Selat Sunda," demikian keterangan resmi TNI AL yang dikutip Rabu, 9 September 2026.

Kelima jurnalis tersebut dilaporkan hilang kontak saat menumpangi speedboat untuk melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Perahu yang mereka tumpangi terakhir terdeteksi berada di sekitar kawasan gunung api aktif tersebut sebelum akhirnya komunikasi terputus.

TNI AL Bagi 4 Sektor, Libatkan Lanal Lampung dan Banten

Selain tiga KRI, TNI AL juga mengoptimalkan kekuatan dari Pangkalan TNI AL Lampung dan Pangkalan TNI AL Banten. Kedua Lanal tersebut mengerahkan Kapal Angkatan Laut atau KAL untuk menyisir titik-titik yang lebih dekat ke bibir pantai dan celah antar pulau kecil.

Seluruh unsur laut TNI AL saat ini bekerja di bawah satu komando operasi gabungan. Pembagian sektor dilakukan agar penyisiran bisa lebih efektif dan tidak ada area yang terlewat. Fokus utama ada di 4 zona yang telah dipetakan Basarnas berdasarkan arah arus dan titik terakhir kontak.

"Seluruh unsur yang terlibat melaksanakan pencarian secara terkoordinasi dengan menyisir sektor-sektor yang telah ditentukan," jelas siaran pers TNI AL yang dikutip dari Antara.

Koordinasi lintas instansi juga terus dimatangkan. Kapolda Banten Irjen Pol Hengki memimpin langsung rapat koordinasi di Posko SAR Nasional Pandeglang. Hadir dalam rapat itu unsur Basarnas, TNI, Polairud, BPBD, dan instansi terkait lainnya.

Dalam arahannya, Kapolda Hengki menekankan agar seluruh tim mengutamakan kesiapan personel dan kerja maksimal. Namun keselamatan tim di lapangan juga menjadi prioritas utama karena kondisi di Selat Sunda saat ini tidak menentu.

Upaya pencarian dari udara sempat terkendala. Faktor utama adalah angin kencang dan paparan abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung. Drone thermal milik Basarnas akhirnya dikerahkan untuk membantu pemindaian pada malam hari.

Pemilik kapal yang disewa para jurnalis menyebut speedboat yang digunakan dalam kondisi layak jalan. Namun kapal tersebut tidak dilengkapi radio komunikasi jarak jauh. Hal ini yang diduga menjadi salah satu penyebab tim di darat tidak bisa mendapat kabar terbaru.

Kendala Gelombang 3 Meter dan Isak Tangis Keluarga di Posko

Operasi SAR gabungan saat ini masih menghadapi dua kendala besar. Pertama adalah gelombang tinggi yang mencapai 2-3 meter di sekitar Selat Sunda. Kedua adalah abu vulkanik yang terus keluar dari kawah Anak Krakatau sehingga membatasi jarak pandang hingga di bawah 500 meter.

Karena kondisi tersebut, pencarian dari udara belum bisa dilakukan secara maksimal. Helikopter baru bisa diterbangkan jika angin dan abu sudah mereda. Untuk sementara pemantauan dilakukan melalui kapal permukaan dan drone thermal.

Di Posko SAR Nasional Pandeglang, suasana haru masih menyelimuti keluarga korban. Istri salah satu jurnalis dari Kantor Berita Antara sempat pecah tangis saat menceritakan komunikasi terakhir dengan suaminya sebelum berangkat meliput. "Katanya cuma 2 hari, Bang. Kok sampai sekarang belum ada kabar," ucapnya lirih.

Polda Banten juga telah menyiagakan Pos Antemortem di RSUD Pandeglang. Langkah ini sebagai prosedur standar dalam operasi pencarian orang hilang dalam jangka waktu lama.

Hingga Rabu sore, belum ada tanda-tanda keberadaan kelima jurnalis maupun speedboat yang mereka tumpangi. Tim SAR gabungan akan terus menyisir hingga radius 20 mil laut dari titik terakhir hilangnya kontak.

Masyarakat pesisir Banten dan Lampung juga diminta ikut membantu. Siapa saja yang menemukan benda mencurigakan atau serpihan kapal diminta segera melapor ke posko terdekat.

Menurut pantauan PULNEW.COM, tragedi hilangnya 5 jurnalis di Selat Sunda adalah pukulan telak bagi dunia pers. Ini menjadi pengingat keras soal standar keselamatan kerja jurnalistik di wilayah bencana.

Penugasan ke daerah rawan seperti Gunung Anak Krakatau seharusnya tidak hanya mengandalkan semangat. Harus dibarengi dengan perlengkapan komunikasi memadai seperti radio HF, pemandu lokal yang hafal arus, dan koordinasi ketat dengan PVMBG serta Basarnas.

Pengerahan 3 KRI oleh TNI AL menunjukkan keseriusan negara dalam pencarian. Ini bentuk apresiasi bahwa nyawa jurnalis juga prioritas negara.

Namun evaluasi ke depan harus menyentuh hulu. Bagaimana media memastikan awaknya tidak bertaruh nyawa demi berita. Bagaimana redaksi membuat SOP penugasan di wilayah bencana.

Kita semua berharap tim SAR segera menemukan para jurnalis dalam keadaan selamat. Karena tugas jurnalisme adalah menyampaikan fakta, bukan menjadi korban dari fakta itu sendiri.