Kemlu Konfirmasi 45 WNI di Nepal, Imbau Waspada di Wilayah Perbatasan Usai Banjir Bandang

2026-08-30T19:15:00+07:00 | NASIONAL

Kemlu Konfirmasi 45 WNI di Nepal, Imbau Waspada di Wilayah Perbatasan Usai Banjir Bandang

PULNEW.COM - JAKARTA - Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia memastikan kondisi warga negara Indonesia di Nepal dalam keadaan aman pasca bencana banjir bandang yang melanda kawasan perbatasan Nepal dan Tibet. Hingga Minggu 30 Agustus 2026 sore, belum ada laporan mengenai WNI yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Juru Bicara 1 Kemlu Yvonne Mewengkang. Ia menyebut pihaknya terus melakukan pemantauan intensif bersama perwakilan RI di luar negeri.

“Hingga saat ini, dari upaya pemantauan dan komunikasi dengan pihak terkait setempat, belum terdapat laporan mengenai WNI yang terdampak,” kata Yvonne Mewengkang dalam keterangannya, pada Minggu 30 Agustus 2026.

Berdasarkan pendataan KBRI Dhaka yang juga membawahi Nepal, saat ini tercatat sekitar 45 WNI berada di negara tersebut. Sebagian besar dari mereka berdomisili di Kathmandu, ibu kota Nepal yang tidak menjadi pusat terparah bencana.

Meski demikian, Kemlu tetap mengimbau seluruh WNI untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya bagi mereka yang berada di wilayah rawan bencana atau tengah melakukan perjalanan wisata ke kawasan Himalaya.

Penyebab Bencana dan Jumlah Korban Terus Bertambah

Bencana alam di kawasan perbatasan China dan Nepal terjadi pada Rabu pagi lalu. Berdasarkan hasil kajian awal, peristiwa ini dipicu oleh runtuhnya gletser atau glacial lake outburst flood. Pecahan es raksasa itu kemudian memicu gelombang air bah yang membawa material lumpur dan bebatuan dalam volume besar.

Fakta tersebut telah dikonfirmasi langsung oleh Survei Geologi Amerika Serikat, USGS. Fenomena runtuhnya gletser ini dikenal sangat destruktif karena mampu menghanyutkan apa saja yang dilewatinya dalam waktu singkat.

Dampaknya sangat masif. Tim penyelamat dari Nepal dan China hingga Minggu 30 Agustus 2026 masih terus bekerja menembus lumpur tebal dan derasnya arus sungai untuk mencari korban.

Data terbaru dari pemerintah kedua negara mencatat jumlah korban hilang mencapai 3.044 orang. Sementara itu, jumlah korban jiwa yang telah terkonfirmasi sebanyak 750 orang.

Kondisi di lapangan dilaporkan sangat ekstrem. Kecepatan arus air saat banjir bandang melanda diperkirakan mencapai 150 Km per jam, sehingga menyulitkan proses evakuasi. Beberapa laporan bahkan menyebutkan kemungkinan sejumlah jenazah terbawa arus hingga ke wilayah India.

Melihat skala kerusakan, pemerintah Nepal dan China telah menyatakan status siaga bencana di sejumlah distrik. Akses jalan utama banyak yang terputus dan infrastruktur dasar seperti jembatan serta jaringan listrik mengalami kerusakan berat.

Imbauan Kemlu dan Saluran Darurat untuk WNI

Menanggapi situasi tersebut, Kemlu RI melalui KBRI Dhaka mengeluarkan imbauan resmi kepada seluruh WNI di Nepal. Imbauan utama ditujukan kepada WNI yang berencana melakukan perjalanan ke wilayah perbatasan Nepal-Tibet yang kini menjadi zona terdampak paling parah.

“WNI diminta mengikuti arahan otoritas setempat, menghindari wilayah terdampak, serta memantau informasi melalui sumber resmi. Dalam kondisi darurat, WNI juga diimbau untuk menghubungi saluran hotline KBRI setempat,” ujar Yvonne.

Kemlu menegaskan bahwa keselamatan WNI menjadi prioritas utama. Untuk itu, koordinasi dengan otoritas setempat terus dilakukan guna memastikan informasi terbaru dapat segera diterima.

Warga juga diminta untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi dan hanya merujuk pada pengumuman resmi dari pemerintah Nepal, China, maupun KBRI.

Selain itu, Kemlu mengingatkan WNI agar selalu membawa dokumen identitas dan menyimpan nomor kontak darurat. Langkah ini dinilai penting untuk mempercepat proses bantuan jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Pemerintah Indonesia melalui perwakilan diplomatiknya juga menyatakan siap memberikan bantuan konsuler apabila terdapat WNI yang membutuhkan evakuasi atau pertolongan lain.

Menurut pantauan PULNEW.COM, bencana banjir bandang akibat runtuhnya gletser di Nepal dan Tibet ini menjadi pengingat serius tentang dampak perubahan iklim terhadap wilayah pegunungan.

Pertama, dengan korban tewas 750 orang dan lebih dari 3.000 orang masih hilang, skala bencana ini termasuk salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir di Asia Selatan. Kecepatan arus 150 km/jam menunjukkan betapa dahsyatnya energi air bah dari gletser.

Kedua, sikap cepat Kemlu dalam melakukan pemantauan dan mengeluarkan imbauan merupakan langkah preventif yang tepat. Dengan hanya 45 WNI di Nepal dan sebagian besar di Kathmandu yang aman, risiko dapat diminimalisir lebih awal.

Ketiga, ke depan dibutuhkan kerja sama lintas negara untuk sistem peringatan dini bencana gletser. Mengingat mobilitas WNI dan wisatawan Indonesia ke kawasan Himalaya diprediksi akan terus meningkat, data real-time dari Nepal, China, dan India harus bisa diakses bersama.