PULNEW.COM - SIDOARJO - Badan Gizi Nasional atau BGN mengonfirmasi ratusan santri dan pelajar di Sidoarjo, Jawa Timur mengalami dugaan keracunan massal setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis atau MBG. Peristiwa itu terjadi pada Selasa 1 September 2026 dan menimpa penerima manfaat dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin.
Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumedana menyebut total warga yang terdampak mencapai 512 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 80 orang masih menjalani perawatan medis di rumah sakit. Sementara 312 orang dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang, serta 120 orang lainnya masih dalam tahap observasi tenaga kesehatan.
“Berdasark an data yang kami terima dari teman-teman yang sudah melakukan investigasi di lapangan, total yang terpapar atau terdampak sebanyak 512 orang,” kata Ketut, Rabu 2 September 2026.
Data Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo bahkan mencatat angka lebih tinggi. Kepala Dinkes Sidoarjo Lakhsmie Herawati Yuwantina melaporkan korban bertambah menjadi 566 orang setelah ditemukan 35 kasus baru. Dari jumlah itu, 88 orang masih dirawat inap di sejumlah rumah sakit rujukan seperti RSUD RT Notopuro, RS Delta Surya, RS Siti Hajar, RS Pusura, RS Aisyiyah, RS Bhayangkara, RS Arafah Anwar, dan RS Assakinah Medika.
Mayoritas korban adalah santri dan santriwati Pondok Pesantren Manbaul Hikam Desa Putat, Tanggulangin. Namun tidak hanya dari ponpes, ada 19 lembaga pendidikan lain yang menerima distribusi MBG dari dapur yang sama.
Kronologi dan Menu MBG yang Didistribusikan
Insiden bermula saat makan siang Selasa 1 September 2026. Makanan dari SPPG Kalitengah dikirim sekitar pukul 10.00 WIB dan dibagikan ke santri sekitar pukul 12.00 - 13.00 WIB. Menu yang disajikan meliputi nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, tumis buncis baby corn, dan buah apel.Beberapa jam setelah konsumsi, tepatnya memasuki waktu Asar, para santri mulai mengeluhkan gejala. Pengasuh Ponpes Manbaul Hikam KH Abdul Wahid Harun mengatakan keluhan awal berupa pusing, mual, hingga muntah. Sejumlah santriwati juga menyebut ada rasa tidak biasa pada sayur.
“Sayur enggak habis, yang kecut dari sayurnya,” ujar salah satu korban SZ usia 15 tahun saat dirawat di RSUD RT Notopuro.
Situasi memuncak pada malam hari. Puluhan ambulans hilir mudik mengevakuasi korban ke rumah sakit. IGD RSUD RT Notopuro Sidoarjo sampai dipadati pasien hingga harus memanfaatkan velbed bantuan BPBD.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak yang juga Ketua Satgas MBG Jatim langsung turun ke RSUD RT Notopuro. Ia memastikan seluruh pasien tertangani sesuai kondisi medis masing-masing dan tidak ada korban jiwa.
Bupati Sidoarjo Subandi juga menegaskan hal serupa. “Secara umum kondisi santri terpantau stabil. Isu adanya santri meninggal dunia akibat kejadian ini sepenuhnya hoaks,” tegas Subandi.
Wagub Emil menduga ada masalah pada proses pengolahan hingga distribusi. Ia menyebut ada spekulasi terkait sayur, namun tidak semua korban menyantap sayur tersebut. “Nggak bisa langsung disimpulkan, oh karena yang nggak makan sayur juga kena, atau sayurnya yang masalah, nggak segampang itu,” ujarnya.
BGN Jatuhkan Sanksi dan Perkuat Pengawasan
Merespons kejadian ini, BGN mengambil langkah tegas terhadap penyedia layanan. SPPG Kalitengah, Tanggulangin disanksi suspensi kategori berat selama 30 hari. Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur Teguh Bayu Wibowo membenarkan surat penghentian sementara sudah turun.Selain suspensi, BGN juga mengusulkan pencopotan dan pergantian kepala SPPG Kalitengah. Dapur tersebut diketahui memasok sekitar 2.800 porsi makanan per hari ke sekolah dan pesantren di wilayah Tanggulangin. Dari jumlah itu, sekitar 1.000 porsi dialokasikan untuk Ponpes Manbaul Hikam.
BGN saat ini fokus pada dua hal: penyelamatan kesehatan korban dan investigasi penyebab. Ketut Sumedana menyatakan pihaknya berkoordinasi intensif dengan kepala daerah, pimpinan ponpes, dan MTs yang santrinya terdampak.
“Selanjutnya pada saat ini kami akan fokus dengan melakukan penyelamatan bagaimana kesehatan dari anak-anak kita ini di beberapa rumah sakit. Ini yang kami utamakan,” tutup Ketut.
Investigasi dilakukan bersama Dinas Kesehatan untuk menelusuri sumber kontaminasi. Pemeriksaan laboratorium masih berlangsung. Pemerintah daerah juga mengaktifkan status krisis kesehatan dan menjamin seluruh biaya pengobatan ditanggung Pemda.
Komnas Perlindungan Anak Jatim turut mendesak audit menyeluruh terhadap seluruh SPPG di Sidoarjo. Sekretaris Jenderal Komnas PA Jatim Jaka Prima menilai evaluasi tidak cukup hanya pada satu dapur.
“Tentu kami mempertanyakan keseriusan SPPG dalam melayani anak-anak atau para Santri. Jangan sampai anak-anak dijadikan kelinci percobaan tanpa mempertimbangkan keamanan dan kesehatan makanan yang disajikan,” tegasnya.
Hingga berita ini ditayangkan, penyebab pasti dugaan keracunan masih dalam proses penyelidikan oleh Dinas Kesehatan. Sementara itu, sebanyak 470 korban dengan kondisi membaik telah dipulangkan dan diminta kontrol lanjutan.
Menurut pantauan PULNEW.COM, kasus keracunan massal MBG di Sidoarjo menjadi ujian serius bagi tata kelola program nasional tersebut.
Pertama, dengan cakupan distribusi SPPG Kalitengah yang mencapai 2.800 porsi per hari, insiden ini menunjukkan pentingnya pengawasan berlapis. Mulai dari higiene sanitasi, sertifikasi laik sehat, hingga uji mutu bahan baku wajib diperketat.
Kedua, sanksi 30 hari dan usulan pencopotan kepala SPPG adalah langkah tepat. Tapi akan lebih efektif jika ada audit mendadak dan kewenangan lebih besar kepada daerah untuk menutup dapur bermasalah sebelum korban bertambah.
Ketiga, tanpa perbaikan sistemik, kepercayaan publik terhadap MBG sebagai program pemenuhan gizi anak berpotensi menurun drastis. Publik berhak mendapat jaminan makanan bergizi sekaligus aman.