PB XIV Hangabehi Turun Langsung Bagikan 1.300 Nasi Kotak ke Warga Terdampak Kebakaran TPA Putri Cempo

2026-09-09T07:06:00+07:00 | EKONOMI

PB XIV Hangabehi Turun Langsung Bagikan 1.300 Nasi Kotak ke Warga Terdampak Kebakaran TPA Putri Cempo

PULNEW.COM - SOLO - Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kubu Lembaga Dewan Adat, Pakubuwono XIV Hangabehi, turun langsung ke lapangan. Sebanyak 1.300 nasi kotak dibagikan kepada warga yang terdampak kebakaran Tempat Pembuangan Akhir Putri Cempo, Solo, Jawa Tengah, pada Selasa 8 September 2026.

Aksi sosial ini dilakukan menyusul kebakaran besar yang melanda TPA Putri Cempo sejak beberapa hari lalu. Asap tebal dan bau menyengat membuat aktivitas warga sekitar terganggu. Banyak warga yang memilih bertahan di rumah dengan kondisi tidak nyaman.

Bantuan pangan disiapkan secara bertahap untuk meringankan beban masyarakat selama proses pemadaman dan pemulihan berlangsung.

Penyaluran dimulai secara simbolis di wilayah Randusari. Setelah itu tim dari Keraton Solo bergerak ke Jatirejo dan beberapa titik lain yang terdampak. Relawan yang terlibat dalam penanganan kebakaran di lokasi juga menerima bantuan yang sama.

Keraton Hadir di Tengah Warga, Bantuan Diberikan Bertahap

PB XIV Hangabehi menegaskan kehadiran Keraton Solo bukan hanya secara simbolis. Ia ingin memastikan bantuan benar-benar sampai ke tangan warga yang merasakan dampak langsung dari peristiwa kebakaran.

"Kurang lebih 1300 tapi ini pelan-pelan tapi ini kami upayakan untuk terjun," kata Hangabehi, Selasa 8 September 2026.

Menurutnya, pembagian nasi kotak merupakan bentuk kepedulian awal. Ke depan, jenis bantuan lain masih dimungkinkan diberikan. Namun hal itu akan diputuskan setelah melihat perkembangan kondisi di lapangan.

"Kita berbagi makanan langsung ke warga. Nanti selanjutnya kita pantau dulu apa yang bisa kita berikan," imbuh Hangabehi.

Ia juga menyampaikan harapan agar proses pemadaman di TPA Putri Cempo segera tuntas. Turunnya hujan disebut dapat membantu mempercepat upaya pemadaman sehingga masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti biasa.

"Keraton hadir untuk memberikan bantuan dampak bencana kebakaran di TPA Putri Cempo," jelasnya. "Kepada masyarakat yang terdampak tetap kuat tetap semangat pasti kita bisa lalui," tambahnya. "Kita berdoa bersama-sama supaya segera pulih. Harapannya mudah-mudahan hujan biar segera padam apinya masyarakat kembali melakukan aktivitas," pungkasnya.

Langkah Awal PB XIV Pasca Jumenengan di Tengah Dinamika Suksesi

Aksi pembagian bantuan ini menjadi kegiatan publik pertama PB XIV Hangabehi setelah prosesi Jumenengan Nata "ISKS Pakubuwono XIV" digelar di Keraton Solo pada Sabtu 5 September 2026. Ia naik takhta dengan dukungan Lembaga Dewan Adat menyusul wafatnya Pakubuwono XIII pada 2025.

Posisi PB XIV saat ini masih berada dalam dinamika internal Keraton Solo. Sebelumnya, KGPH Purboyo yang merupakan putra mahkota pada masa pemerintahan Pakubuwono XIII juga telah mendeklarasikan diri sebagai Pakubuwono XIV pada Rabu 5 November 2025.

Di tengah situasi tersebut, langkah sosial ke masyarakat terdampak bencana menjadi salah satu cara Keraton menunjukkan keberadaan dan perannya. Ini adalah cara paling cepat untuk membangun kedekatan dengan rakyat.

Selain makanan, warga di sekitar TPA Putri Cempo sebelumnya juga telah mendapat dukungan dapur umum dari Pemkot Solo dan relawan lain untuk memenuhi kebutuhan harian selama masa darurat.

Kebakaran di TPA Putri Cempo sendiri telah menyebabkan sejumlah warga mengungsi sementara waktu karena gangguan pernapasan. Pemadaman masih terus dilakukan oleh petugas gabungan dari BPBD, Damkar, dan TNI.

Langkah PB XIV Hangabehi membagikan 1.300 nasi kotak ini pun mendapat perhatian luas. Banyak warga mengapresiasi keterlibatan langsung Keraton di tengah musibah yang dialami masyarakat sekitar TPA.

Menurut pantauan PULNEW.COM, aksi sosial yang dilakukan PB XIV Hangabehi memiliki dua makna penting.

Pertama, sebagai bentuk tanggung jawab moral Keraton terhadap kondisi masyarakat di wilayahnya. Di saat warga susah karena bencana, institusi adat hadir bukan hanya memberi doa tapi juga bantuan nyata.

Kedua, sebagai upaya membangun kedekatan dengan warga di awal masa kepemimpinan. Di tengah dinamika suksesi yang belum sepenuhnya mereda, kehadiran langsung dan bantuan konkret seperti ini dapat menjadi jembatan untuk memperkuat legitimasi sosial PB XIV di mata masyarakat Solo.

Ke depan, konsistensi Keraton dalam merespons persoalan masyarakat akan menjadi tolok ukur seberapa besar peran institusi adat ini dalam kehidupan publik. Jika Keraton bisa terus hadir di setiap bencana dan persoalan rakyat, maka eksistensinya akan semakin relevan di era modern.